Category: Informasi

Gerhana Venus Hari Ini

Banyak fenomena astronomi menarik yang terjadi selama dua bulan ini. Setelah beberapa meteor sporadik yang menghantam wilayah Indonesia beberapa waktu lalu, disusul terjadinya puncak hujan meteor Eta Aquarids . Kini langit Indonesia juga dihias oleh munculnya beberapa planet yang cukup terang seperti Venus, Mars dan Saturnus pada sore hari serta kemunculan Jupiter dan Merkurius pada pagi hari.

Satu lagi fenomena astronomi yang sangat menarik yang mungkin hanya bisa kita saksikan sekali selama hidup kita. Ia adalah peristiwa “Gerhana Venus” atau sering disebut sebagai okultasi Venus yaitu fenomena saat planet Venus, benda langit paling terang nomor 3 setelah Matahari dan Bulan dan sering disebut sebagai ‘bintang Kejora” ini akan bermain petak umpet.

Ya, di langit Barat sore hari setelah Matahari terbenam Planet ini tiba-tiba ‘menghilang’ dari pandangan karena bersembunyi di belakang wajah Bulan sabit muda yang sore itu belum genap berumur 3 hari.

Apakah perlu peralatan khusus untuk menyaksikan fenomena ini? Jawabannya tentu tidak, sebab dengan mata telanjang saja kita bisa menyaksikan peristiwa ini dengan baik, sebab planet Venus yang kali ini memiliki magnitude -3,9 cukup terang dilihat langsung dengan mata telanjang. Demikian juga halnya dengan Bulan yang akan menutup Venus. Kali ini Bulan sedang pada fase bulan sabit muda di usianya yang sudah 3 hari dengan iluminasi mencapai 7% akan sangat mudah dilihat setelah Matahari terbenam.

Kita bisa melihatnya Fenomena astronomi ini malam Senin besok secara langsung kalau cuaca cerah,” kata Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin dalam pesan singkatnya kepada VIVAnews, Sabtu 15 Mei 2010.

JADWAL TERJADINYA GERHANA VENUS DI BEBERAPA DAERAH.
 

Ba’da (usai) Magrib, kata profesor riset ini, masyarakat bisa mengarahkan tatapannya ke langit bagian barat. Saat itu akan terlihat ‘bintang’ terang atau bintang kejora. Venus akan terlihat di atas bulan sabit.

Pada masa lampau, gerhana Venus menjadi inspirasi pemuka agama Islam. Mereka menjadikan fenomena alam itu sebagai simbol berupa bulan sabit dan bintang.

Direktur Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat, Hakim L. Malasan, mengatakan simbol agama Islam tersebut sebenarnya bulan sabit dan planet Venus, bukan bintang. Kedua benda luar angkasa itu terlihat seperti bersentuhan di langit saat gerhana Venus.

“Lambang seperti di atas kubah masjid itu dari peristiwa gerhana Venus,” katanya. Dia menduga, para pemuka Islam ketika itu melihatnya saat memantau hilal, karena gerhana Venus seperti yang akan terjadi petang nanti, muncul saat bulan baru.

Berdasarkan perhitungan para astronom okultasi yang terjadi pada hari ini hanya akan berulang pada tahun 2052 yad. Maka dari itu jangan lewatkan fenomena ini atau anda tidak akan pernah menyaksikannya lagi seumur hidup. Akhirnya kita hanya bisa berharap semoga saat fenomena berlangsung nanti kondisi langit cukup menguntungkan alias cerah.

Petir Catatumbo di Venezuela, Ribuan Kali Sambaran Sehari

Pernahkah Anda mendengar tentang  petir Catatumbo? Petir Catatumbo adalah sebuah fenomena aneh yang terjadi di Venezuela. Merupakan fenomena petir yang terus menyambar dengan intensitas yang tinggi. Bahkan bisa mencapai 400.000 lebih sambaran dalam setahun.

Petir Catatumbo telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Pada Januari 2010 Petir Catatumbo sempat tidak muncul. Banyak yang menyangka jika Petir Catatumbo sudah tidak akan muncul kembali. Namun pada April 2010, Petir Catatumbo muncul kembali. Belakangan diketahui bahwa kekeringanah yang menyebabkan Petir Catatumbo sempat tidak muncul.
Peetir Catatumbo terletak di muara sungai Catatumbo, lebih tepatnya di Danau Maracaibo, Venezuela. Petir yang menyambar pun intensitasnya cukup luar biasa. Bayangkan saja, petir tersebut rata – rata menyambar selama 10 jam dalam sehari, dan dalam satu jam, petir tersebut dapat menyambar rata – rata sampai 280 kali sambaran dalam satu jam. Bisa Anda bayangkan berapa kali petir Catatumbo menyambar dalam sehari !!
Dan yang lebih menakjubkannya lagi, dalam satu tahun, petir bisa menyambar sampai 140 sampai 160 hari dari 365 hari dalam setahun. Dan petir tersebut rata – rata menyambar dengan ketinggian 5 km. Sungguh luar biasa!

Penelitian juga mengatakan bahwa Catatumbo Lightning adalah penghasil ozon dengan presentase tertinggi di dunia, dari seluruh tempat di dunia. Karena Petir Catatumbo dapat menghasilkan sekitar 1.176.000 kW listrik di atmosfer.

Masyarakat kuno Yukpa di negeri tersebut mempercayai bahwa kilatan warna biru, putih, dan merah muda Petir Catatumbo, terjadi saat kunang – kunang bertemu dengan roh para leluhur. Selama berabad – anad para pelaut pun menggunakan Petir Catatumbo sebagai alat navigasi dari alam agar mereka tidak tersesat di lautan. Karena Petir Catatumbo bisa terlihat dari jarak yang jauh, bahkan sampai ratusan mil jauhnya. Oleh karena itu Petir Catatumbo juga sering disebut Lighthouse of Maracaibo atau dalam bahasa Indonesia nya Mercusuar Maracaibo.
Petir Catatumbo konon telah ada sejak berabad – abad yang lalu. Catatan sejarah mengenai Petir Catatumbo sendiri pertama kali tercatat pada tahun 1597 dalam sebuah puisi epik karangan Lope de Vega berjudul La Dragontea.
 

Alexander von Humboldt, seorang naturalis Prussia, pernah menggambarkan Petir Catatumbo sebagai “ledakan listrik yang seperti sinar pendar”. Seorang Geografis dari Italia yang bernama Agustin Codazzi, pernah menggambarkan Petir Catatumbo sebagai “kilat yang tampaknya muncul dari sungai Zulia lanjutan dan sekitarnya”.
Studi mengenai Petir Catatumbo pertama kali dilakukan oleh Melchor Centeno. Kemudian pada tahun 1966 sampai 1970, ilmuwan Andrew Zavrostky melakukan tiga ekspedisi dengan bantuan dari University of Los Andes yang menyimpulkan bahwa areal tersebut akan memiliki episentris di rawa – rawa dari Swamp National Park Juan Manuel de Aguas, Claras Aguas Negras dan Danau Maracaibo bagian barat. Pada tahun 1991, ia juga mengatakan bahwa fenomena tersebut terjadi karena adanya pertemuan arus udara hangat dan dingin di daerah tersebut. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa penyebab untuk kilat terisolasi mungkin karena keberadaan uranium di dasar bebatuan.
Kemudian pada tahun 1997 sampai 2000, Nelson Falcon melakukan beberapa ekspedisi dan menghasilkan model mikrofisika dari Petir Catatumbo yang mengidentifikasikan bahwa metana lah yang menyebabkan Petir Catatumbo. Namun saat itu teori ini masih dianggap hanya sekedar spekulasi. Tapi belakangan, penyebab fenomena tersebut adalah gas nontoksik metana yang menguap dari rawa dan endapan minyak.
Di bawah ini adalah ilustrasi proses terjadinya Petir Catatumbo
 

1. Angin Karibia yang hangat dan lembab bertemu udara dingin Pegunungan Andes. Ini bisa menciptakan badai guntur.
2. Metana menguap dari lapisan minyak di Danau Maracaibo dan dari materi rawa yang membusuk. Gas itu lalu dibawa angin ke awan.
3. Arus udara di dalam awan menyebarkan metana secara merata. Tetapi gas tersebut tetap terkonsentrasi di area – area tertentu.
4. Dalam kondisi normal, udara di awan merupakan penyekat yang membuat aktivitas listrik menurun. Metana membuat listrik itu melemah. Petir pun terjadi
(Sumber: VIVAnews)

Fenomena langit terbelah

Pada tanggal 11 Juni 2010, sekitar pukul 17.30, sebuah fenomena menarik terjadi di langit Yogyakarta. Sebuah cahaya panjang terlihat membentang seperti membelah langit. Apakah ada penjelasan sains dari fenomena semacam ini?

Saya menerima beberapa email mengenai fenomena ini, salah satunya adalah dari Ney Cassanova yang fotonya saya gunakan di bawah ini. Foto ini diambil dari wilayah Kalasan, Yogyakarta pada tanggal 11 Juni 2010 sekitar pukul 17.30.

Sebagian orang mungkin beranggapan kalau foto di atas adalah hasil Photoshop. Namun, ternyata tidak. Walaupun terlihat sangat spektakuler, fenomena di atas adalah sebuah fenomena yang sudah dikenal di dunia sains dan bahkan memiliki penjelasan yang cukup sederhana. 

Fenomena itu disebut Anticrepuscular Rays.

Ini penjelasan singkat mengenainya.

Untuk memahami soal Anticrepuscular Rays, terlebih dahulu kita harus memahami soal saudaranya yang bernama Crepuscular Ray.

Crepuscular Ray adalah suatu fenomena alam ketika cahaya matahari terlihat beradiasi dari satu titik tertentu. Radiasi cahaya ini bisa terjadi karena cahaya matahari masuk melewati celah-celah di antara awan atau objek lain dan biasanya terlihat menjelang matahari terbit atau tenggelam.

Fenomena ini juga dikenal dengan sebutan Sun Rays atau Gods Rays.

Ini contohnya:

Nah, kalian pasti sudah sering melihat fenomena seperti foto di atas. 

Sekarang mengenai Anticrepuscular Ray.

Seperti Crepuscular ray, Anticrepuscular Ray adalah berkas sinar yang mirip dengan Crepuscular, namun terlihat berada di tempat yang berlawanan dari matahari.

Cahaya ini terjadi ketika Crepuscular Ray yang muncul dari matahari terbit atau tenggelam terlihat mengalami Konvergensi ulang di Titik Antisolar (Titik langit yang berlawanan dengan arah matahari).

Jika kalian bingung dengan definisi di atas, ingat saja ini: fenomena di atas juga terjadi karena sinar matahari terhalang oleh awan atau objek lainnya seperti crepuscular ray, namun ia terlihat di arah yang berlawanan dengan matahari. Sama seperti Crepuscular, fenomena ini juga sering terlihat ketika matahari terbit atau tenggelam.

Ini konsisten dengan fenomena Yogyakarta yang terlihat pada pukul 17:30.

Ini contoh-contoh lain fenomena serupa di berbagai belahan dunia.

Lokasi tidak diketahui
Nebraska, 26 Juni 2008
Florida, 27 February 2002.

SUPERMOON

Bulan seperti terlihat dari ujung Worthing Dermaga di Sussex, ke arah timur menuju beachy Kepala

Bulan terlihat dibelakang atas ‘Funkturm’ menara radio dan televisi di Berlin

Revellers berdiri di samping St Michael’s Tower di Glastonbury Tor, Somerset, menonton bulan karena pada titik terdekat dengan Bumi selama dua dekade

Bulan purnama terlihat seperti naik dekat Lincoln Memorial, di Washington DC

Sesuatu untuk semua orang: Wisatawan, bintang-gazers dan pecinta sederhana bintang-menyeberang berkumpul untuk menonton naik bulan atas New York Timur Sungai

Moonhattan: Bulan besar menambah lampu New York City seperti yang terbit di atas kota yang memukau

Ups, ini bukan Superman. Ini adalah “Supermoon”. Supermoon adalah fenomena ketika Bulan tampak lebih besar dari biasanya akibat kedekatannya dengan Bumi. Supermoon akan bisa dilihat Sabtu (19/3/2011) malam. Bulan akan tampak 7 persen lebih besar dari biasanya.

Supermoon sendiri bukanlah istilah dalam astronomi, melainkan dalam astrologi. Kalangan astrolog biasanya mengidentikkan supermoon dengan kekuatan jahat atau bencana. Seorang astrolog bernama Richard Nolle, misalnya, memperkirakan bahwa supermoon kali ini akan menimbulkan bencana gunung berapi dan badai.

Kabar yang beredar di internet juga menyebut bahwa supermoon yang akan terjadi esok berkaitan dengan bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang Jumat (11/3/2011) lalu. Namun, hal tersebut ditampik oleh para astronom dengan mengatakan efek supermoon sangatlah kecil.

Dalam dunia astronomi, Bulan bisa berada di titik terjauh dan terdekat dengan Bumi. Titik terjauh dikenal dengan apogee, sedangkan titik terdekat dikenal dengan perigee. Saat Bulan mencapai titik terdekat atau perigee inilah, fenomena yang dikenal dengan supermoon terjadi.

Publikasi space.com menyebutkan, Bulan akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi dalam kurun waktu 18 tahun terakhir. Bulan “hanya” 356,577 kilometer dari Bumi. Ini 30.000 kilometer lebih dekat dengan jarak rata-rata Bumi-Bulan biasanya yang berkisar 382.900 km.

Berdasarkan waktu Indonesia, jarak terdekat Bumi-Bulan tersebut akan terjadi pada Minggu (20/3/11) dini hari pada pukul 02.10 WIB. Puncak purnamanya sendiri bisa dinikmati pukul 01.11 atau 59 menit sebelum jarak terdekat Bumi-Bulan dicapai.

Bulan yang istimewa ini takkan bisa dinikmati langsung dengan mata telanjang. Untuk membedakan “kegemukannya”, harus digunakan teleskop. Untuk menikmatinya pemandangan terbaik ini, seseorang juga mesti memlih lokasi yang lapang dan gelap hingga cahaya Bulan bisa lebih terang.

Akibat kedekatannya, maka Bulan akan sedikit memengaruhi kondisi di Bumi. Misalnya meningkatnya gelombang pasang yang terjadi akibat gaya tarik Bulan yang sedikit lebih besar. Bagi nelayan, kondisi ini perlu diwaspadai dan sebaiknya tak melaut.

Pengaruh lain adalah meningkatnya aktivitas seismik dan gunung berapi. Namun, sekali lagi efeknya sangat kecil. Jim Garvin dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt bahkan mengatakan, “Super dalam supermoon hanyalah karena penampakan yang lebih dekat.”

Apa pun itu, menikmati fenomena alam yang jarang terjadi tentunya mengasyikkan. Apalagi bisa mengetahui “super”-nya bulan purnama. Selamat menanti Supermoon….

Daun Buatan Bisa Lakukan Fotosintesis

Berhasil diciptakan daun buatan yang bisa memproses sinar matahari dan air menjadi energi seefisien daun asli. Pada ajang National Meeting of the American Chemical Society, belum lama ini, peneliti dari Massachusetts Institut of Technology (MIT) mengumumkan keberhasilan mereka dalam membuat daun artifisial yang terbuat dari bahan-bahan yang stabil dan tidak mahal, tapi memiliki sifat seperti daun asli.

Daun artifisial menggunakan sinar matahari untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen yang dapat dipakai untuk menciptakan listrik.

Meskipun sifatnya mirip, jangan harap rupanya seperti daun natural. Daun artifisial ini dibuat dari silikon dan berbagai katalis yang memacu reaksi kimia untuk menghasilkan listrik. “Dengan ditempatkan dalam segalon air dan diletakkan di bawah sinar matahari, daun buatan ini dapat menyediakan listrik untuk keperluan mendasar di rumah,” jelas Dr. Daniel Nocera

Daun ini bukan daun pertama yang bisa menirukan proses fotosintesis. Tapi percobaan-percobaan berikutnya menghasilkan daun yang terbuat dari bahan-bahan tidak stabil dan mahal serta tidak tanah lama. Nocera dan tim yang dipimpinnya membuat daun artifisial dari bahan yang tidak mahal dan umum, seperti nikel dan kobalt. Di laboratorium mereka, daun artifisial berukuran kartu remi dapat bertahan selama 45 jam tanpa penurunan kinerja.

Pada penelitian berikutnya Nocera akan berusaha meningkatkan efisiensi dan umur materi fontosintesis. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Earth Hour

Pemanasan Global (global warming) telah menjadi isu yang mendunia. Untuk itu berbagai upaya dan kegiatan dilakukan instansi dan dunia yang berbau lingkungan akibat ketakutan ataupun kesadaran guna menyelamatkan bumi, dan sebagai salah satu langkah bijak untuk kelestarian tempat manusia hidup. Peringatan satu jam untuk bumi yaitu sebuah gerakan yang digagas oleh WWF (World Wide Fund for Nature, juga dikenal sebagai World Wildlife Fund), organisasi konservasi terbesar di dunia, berupa inisiatif global yang mengajak individu, praktisi bisnis, pemerintah, dan sektor publik lainnya di seluruh dunia untuk turut serta mematikan lampu (hanya) dalam 1 jam, pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 20.30 – 21.30 (waktu setempat). Memasuki bulan April 2011 mendatang, penduduk dunia juga kembali akan memperingati Hari Bumi. Gagasan Hari Bumi tersebut muncul ketika seorang senator Amerika Serikat, Gaylorfd Nelson menyaksikan betapa rusak dan tercemarnya bumi oleh ulah manusia, maka ia mengambil prakarsa bersama dengan LSM untuk mencanangkan satu hari bagi ikhtiar penyelamatan bumi dari kerusakan. Ide mematikan lampu di Earth Hour bertujuan untuk mengurangi kadar pemanasan global yang salah satunya disumbang oleh penggunaan perangkat listrik sehari-hari yang ada di rumah kita. Selain itu, dengan mematikan listrik, diharapkan konsumsi energi listrik di seluruh dunia dapat sedikit ditekan sehingga menghemat energi yang ada di dunia. Ke depan, diharapkan kampanye ini mengangkat dan memancing semangat kepemimpinan di semua sektor agar bisa diadaptasi oleh pemerintahan dan korporasi di negara-negara partisipan untuk secara signifikan memasukkan efisiensi energi dan penggunaan sumber energi baru terbarukan sebagai bagian dari kebijakan yang mereka miliki supaya penurunan emisi gas rumah kaca bisa dilakukan secara komprehensif. Berdasarkan hitungan dari data WWF dilaporkan bahwa, kegiatan kecil mematikan lampu selama satu jam di wilayah Jakarta akan menghemat 10 persen dari konsumsi listrik rata-rata per jamnya atau sekitar 300 megawatt. Daya itu cukup untuk mengistirahatkan satu pembangkit listrik dan mampu menyalakan 900 desa. Dengan dukungan penuh masyarakat, program itu juga mampu mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta. Mengurangi emisi CO2 sekitar 284 ton. Menyelamatkan lebih dari 284 pohon, karena 1 pohon bisa menghirup CO2 sebanyak 1 ton sepanjang hidupnya dan menghasilkan O2 bagi 568 orang. Dalam peringatan Earth Hour tahun 2008, tercatat lebih dari 30 negara, termasuk Indonesia menjadi salah satu negara peserta yang turut beraksi dan turut berpartisipasi. Pemadaman listrik sebagai bentuk kesadaran akan energi dan pemanasan global juga dilakukan di sejumlah ikon kota besar dunia. Di antaranya Burj Dubai, Canadian National Tower Toronto, Moscow’s Federation Tower, Quirinale Roma, Kediaman Resmi Presiden Italia Giorgio Napolitano, Auckland Sky Tower Australia, Opera House Sidney, dan Table Mountain di Cape Town. Pada tanggal 28 Maret 2009, ratusan juta orang di lebih dari 4000 kota besar dan kecil di 88 negara di seluruh dunia mematikan lampunya mendukung Earth Hour dan menjadikan tahun 2009 menjadi gerakan lingkungan terbesar dalam sejarah. Sejak 2009 dan 2010, kampanye 60 menit atau satu jam untuk bumi tersebut menjadi kampanye lingkungan hidup terbesar dalam sejarah karena berhasil meraih 1,5 miliar pendukung dari 4.616 kota di 128 negara. Peringatan satu jam untuk bumi yang dikenal dunia sebagai “Earth Hour” ini bermula dari kampanye kolaborasi antara WWF-Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett untuk kota Sydney, Australia dengan tujuan mengurangi gas rumah kaca di kota tersebut sebanyak 5 persen pada tahun 2007. Kabar tentang keberhasilan Earth Hour perdana di Australia itu kemudian terdengar di seluruh dunia, sehingga menarik banyak negara lain untuk kemudian turut serta dalam Earth Hour 2008. Mereka mengajak individu, praktisi bisnis, pemerintah, dan sektor publik lainnya di seluruh dunia untuk mematikan lampu dan perangkat listrik lainnya selama 60 menit dalam waktu bersamaan serempak diseluruh dunia. Ketika itu reaksi positif dan antusias masyarakat sebagai kesadaran akan bahaya pemanasan global, 2,2 juta warga mematikan lampu di rumah, kantor, dan gedung lainnya untuk menghemat listrik serta menurunkan polusi karbon. Di Indonesia, sejumlah kota besar di pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali turut berpartisipasi dalam kampanye Earth Hour tersebut. Kita perlu belajar dari negeri China, setelah membukukan pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan dan menjadi salah satu Negara berkembang pesat yang “ditakuti” Negara maju, kini mengembangkan listrik tenaga angin dan menuju Negara ketiga terbesar listrik tenaga angin menggeser Spanyol setelah Amerika Serikat dan Jerman pada tahun 2010. Niat China mengubah sebagian energi mereka yang sebelumnya merupakan Negara berkembang pesat dengan ketergantungan pada batubara (saat ini masih diperkirakan 70 persen) menjadi energy ramah lingkungan didukung keputusan pemerintahnya mengadopsi ketentuan hukum baru yang mewajibkan kebutuhan industri-industri diperoleh dari sumber energi terbarukan. Earth Hour sebenarnya bukanlah tentang pengurangan energi selama 60 menit, namun sebagai aksi ekspresi bahwa hal kecil yang dilakukan dalam skala besar dapat memberi perubahan pada dunia. Earth Hour tidak bisa berhenti di 1 jam saja, melainkan diharapkan bisa diadaptasi oleh pemerintahan di negara-negara partisipan dan publik yang telah berkomitmen menjadi partisipan. Tujuan utama kampanye tersebut yaitu untuk melanjutkan target efisiensi energi dan perubahan gaya hidup di kota-kota besar di dunia dengan konsumsi listrik tinggi, dan berusaha mengaitkannya dengan potensi sumber energi baru terbarukan yang lebih bersih dan berdampak minimal pada lingkungan. Pada intinya, kampanye ini mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di earth hour saja, tetapi aksi kecil ini harus terus dibuktikan setiap hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca, dan diikuti dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, seperti: menggunakan kendaraan umum atau bersepeda untuk bepergian, hemat air, menanam pohon, dan lain-lain. Mari bersama-sama kita ikut berpartisipasi dalam event “ Earth Hour” ini untuk menjaga Bumi kita tercinta dan menanamkan pembelajaran pada masyarakat bahwa di Indonesia listrik bukanlah barang murah dan pentingnya listrik yang mempunyai dampak pada pemanasan global.

so tidak ada salahnya jika kita mendukung Earth Hour ini..demi masa depan bumi yg lebih baik…

Sumber * Aku cinta Biologi *

Berbicara dengan Google

Selama ini, pengguna internet sudah sangat akrab dengan mesin pencarian Google. Tinggal ketik keyword atau kata kunci ke kotak yang disediakan, maka tak lama muncullah hasil pencarian dari yang paling sesuai konteks yang diinginkan.

Tapi sekarang ada cara lain untuk mencari di Google khususnya buat para pengguna smartpone. Tak perlu mengetik, namun cukup berbicara ke mesin Google. Mesin tersebut akan mengenali suara Anda, mengirimkannya ke server, dan mencarikan daftar alamat internet terkait. Tak hanya situs web, tapi juga berita, foto, peta, dan video. Saat ini frasa dan kalimat dalam Bahasa Indonesia pun sudah dikenali.

Namanya Google Voice Search. Untuk sementara baru tersedia untuk smartphone berbasis Android, BlackBerry, dan iPhone.